Senin, 02 Februari 2015

“Salamku Pada Hujan”



Oleh : Sierly A Suhardi
 
Pagi memang telah nampak, tetapi hujan dan mendung menghalangi mentari menampakkan sinarnya untuk bumi. Segelas teh panas yang di diamkan sejenak dan roti tawar dengan selai nanas menemani Fatma yang melihat keluar derasnya hujan sembari memikirkan kekasihnya yang kini jauh darinya, bukan karena sikap dan yang lainnya, tapi JARAK.
Hash.. dingin sekali, pikirnya. Dia beranjak dari tempat duduknya dan mengambil sebuah jaket pemberian pacarnya sebagai kenangan sebelum mereka berpisah serta selimut dari kamarnya. Dibalutkannya jaket dan selimut tadi di tubuhnya.
Diraihnya handphone milikknya dari meja, satu pesan baru diterima.
Dari : My sayang:* 17/01/2015 03:27
Sayang.. :’( {}
Pesan dari jam tiga lebih dua puluh tujuh menit. Dan tepatnya pada saat itu Fatma masih tertidur pulas ditemani boneka doraemon pemberian kekasihnya bersamaan dengan jaket sebelum mereka berpisah jarak.
“Ahh.. Begooo !!” Ucap Fatma sambil memukul kepalanya.
Fatma tidak menyadari bahwa ibu dan neneknya mengamati kelakuan Fatma sejak tadi.
“Apa nduk?” Ucap ibunya.
Linglung “Heh? Ga apa-apa kok bu.. Hehe.” Meringis.
“Ndak dapet sms dari pacarnya paling.” Ucap Neneknya.
“Hemh.. nenek, orang aku lupa ga ngerjain PR kemarin kok.” Ucap Fatma.
Dalam hatinya ada sedikit perasaan bersalah karena tidak berkata jujur kepada Ibu dan neneknya. Pemikiran itu juga diperkeruh dengan rasa bersalahnya karena baru membuka pesan dari kekasihnya Adi yang diterimanya 3 jam sebelumnya. Oh God ! ada apa? Fatma jadi merasa bersalah karena dia tau bahwa mungkin saya kekasihnya sedang membutuhkan dia, apalagi kondisi Adi kini sedang sakit dan jarang ada komunikasi.
Dibalasnya pesan dari kekasihnya itu. Dengan rasa khawatir dan was-was yang mendalam dia mulai mengetik beberapa kata dan mengirimnya pada kekasihnya. Ternyata firasatnya benar. Adi sedang dalam kondisi yang tidak baik. Pemikirannya mulai kacau. Tapi Fatma berusaha untuk tetap sabar dan ikhlas.
Menyadarkan Fatma dari lamunannya. “Bantu ibu masak ya nduk?” Ucap Ibunya.
Mengangguk “He’em bu, mau masak apa hari ini? Biar Fatma aja yang masak.” Ucap Fatma.
“Ibu lagi pengen makan sayur bening sama ikan panggang balado nduk, bahannya udah ada di dapur. Tinggal diolah.”
“Siaaappp madam! Hehe.” Ucap Fatma.
Meskipun banyak hal yang dipikirkan Fatma, tapi dia tidak ingin menampakkan kesedihan dan kesulitannya kepada orang lain. Fatma lebih senang berbagi dengan Allah ketika dia usai shalat dan berdo’a. Tak ingin membuat orang yang disayanginya ikut pula merasakan kesedihan dan kesusahan yang dialaminya. Anak yang pemendam bukan? Tapi baginya itu yang terbaik.
Fatma mulai menunjukkan keahliannya dalam memasak. Tentu saja Fatma ahli dalam bidang ini, hemm.. aku emang calon ibu rumah tangga yang baik.. haha, pikir Fatma. Benar saja, tak butuh waktu yang lama masakan Fatma sudah siap untuk dimakan.
“Udah selesai buk, ibu bisa sarapan dulu. Apa mau Fatma yang ambilin nasi?” Ucap Fatma.
“He’em nduk, dikit aja ya.”
“Walah buk, kok cuma dikit tha.. kan ibu baru aja sembuh. Harus makan yang teratur sama minum obatnya.”
“Ibu ndak nafsu makan nduk.”
“Hemh.. Fatma gak mau tau, pokoknya ini nasinya harus di habisin. Ini juga gak banyak-banyak banget.”
“Iya-iya, walah.. anak ibu ini sekarang cerewet banget.” Ucap ibu menggoda.
“Alah, ibu ini lho.. Emm, mau Fatma bikinin teh anget buk? Apa minum susu aja?”
“Bikinin susu aja lah nduk.”
“Siap madam! Bentar ya, itu maemnya dihabisin pokoknya. Nanti Fatma ambilin obatnya sekalian.” Ucap Fatma pada ibunya.
Begitulah Fatma, dia sangat sayang kepada ibunya. Tak heran, karena hanya ibunya lah orang tua yang tersisa. Semenjak kepergian Ayahnya, Fatma hanya hidup dengan Ibu dan neneknya. Dia sudah lumayan lama kehilangan kasih sayang seorang Ayah. Tak jarang Fatma merindukan bagaimana rasanya disayang Ayah, diperhatikan Ayah dan yang lainnya seperti teman-temannya yang lain. Sungguh itu amat dirindukannya.
“Ini buk, diminum ya.” Ucap Fatma sambil membawa segelas susu hangat pesanan ibunya dan beberapa obat milik ibunya.
Ibu hanya mengangguk.
Tak lama mereka duduk bersama tiba-tiba ibu memulai percakapan, kali ini hal serius sedang mereka bicarakan,
“Nduk, minggu depan ibu pergi pelatihan ke Pekanbaru.” Ucap Ibu
“Minggu depan? Kok mendadak banget buk?”
“Lha kan prosesnya sudah lama nduk, ibu nunggu sudah 2 bulan tha?”
Fatma hanya mengangguk, mencoba tidak terlihat begitu sedih di hadapan ibunya. Haruskah? Jerit Fatma dalam hati. Minggu depan ibunya pergi pelatihan untuk tenaga kerja ke luar negeri di Pekanbaru. Memang, hal itu harus dilakukan ibunya mengingat begitu banyak biaya yang diperlukan untuk sekolah Fatma, apalagi sebentar lagi Fatma sudah ujian, tentunya akan lebih banyak lagi pengeluaran untuk itu. Belum lagi biaya SPP yang sudah nunggak hampir 2 tahun. Ahhh.. semua itu terasa berat bagi Fatma.
Meski Fatma tidak ingin ibunya pergi, tapi apalah daya. Memang hal tersebut harus dilakukan demi kelangsungan ekonomi keluarga Fatma. Perasaan khawatir dan sedih tentunya dirasakan Fatma, harus berpisah dengan ibunya selama kontrak kerja 2 tahun di negeri tetangga. Apalagi selama ia masih bayi hingga sekarang ibunya lah yang selalu menemani Fatma. Dan semenjak kepergian Ayahnya, bukankah hanya ibunya satu-satunya orang yang paling berarti untuknya.
Seminggu berlalu, musim ini masih musim hujan. Kali ini ia duduk sendiri, di dekat jendela ruang tamu tempat Fatma biasa berkumpul dengan Ibunya. Tapi kali ini ia sudah tak bersama dengan ibunya. Hanya lantunan doa-doa yang bisa Fatma panjatkan. Beharap Tuhan mengabulkan doa-doa Fatma. “Sungguh, aku pasti akan sangat merindukanmu Ibu.” Batin Fatma dalam hati. Semuanya terasa berkecamuk perih. Ingin rasanya ia meneteskan air matanya yang sudah berada di ujung matanya. Ingin ia menangis ditemani seseorang yang mau mendengar semua cerita-ceritanya.
            Fatma memandang keluar, tiba-tiba handphone-nya berdering.
“Hallo, Assalamualaikum?”
“Waalaikumsalam.”
“Mas baik-baik aja kan?”
“Iya sayang, mas baik-baik aja kok. Mas cuma kangen sama adek.”
Tersenyum kecil mendengar ucapan kekasihnya. “Aku juga kangen banget sama mas.”
            Banyak hal yang mereka bicarakan, termasuk tentang kesedihan Fatma yang ditinggal ibunya pergi bekerja. Memang seperti itulah hubungan Fatma dengan kekasihnya, terkadang Fatma merasa sangat jauh dan sangat merindukan kekasihnya. Tapi ketika mendengar suara kekasihnya itu, jarak dirasa tak berarti lagi. Adi sudah menjadi sebagian semangat hidup bagi Fatma, ia hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja. Berharap Tuhan selalu melindungi, menjaga, menyayangi orang-orang terkasihnya yang jauh darinya.
“Sayang yang sabar ya, berdoa aja buat ibuk ya. Semoga ibuk baik-baik aja, dan selalu diberi perlindungan oleh Allah. Mas selalu buat adek kok, mas selalu support adek dari belakang, jangan sedih lagi ya sayangku. Mas ga mau liat sayang sedih. Mas sayang banget sama sayangku.” Ucap Adi lewat percakapan dari telepon itu.
“He’em mas, makasih ya mas. Aku sayaaang banget sama mas.”
            Fatma menengok ke luar jendela rumahnya. Hujan deras mengguyur tanah. Fatma menyampaikan salamnya untuk orang-orang terkasihnya pada hujan, sembari berdoa agar semuanya lancar semuanya baik-baik saja, dan semuanya dilindungi Tuhan. :)
“Aku sayang papa, sayang mama, sayang mas Adi. HUJAN sampaikan salamku pada mereka, orang terkasihku.” Batin Fatma.

Jumat, 16 Januari 2015

Papa :)



punya papa / ayah / daddy / bapak..?
semua orang 'pasti' punya ..
saya juga .. :)

yang tidak pasti adalah 'apakah kamu mengenal papamu, atau tidak..?'

papa saya adalah orang yang paling luar biasa didalam hidup saya..


Papa saya adalah papa terhebat di dunia, papa yang luar biasa. Papa begitu banyak berkorban selama ini, selalu sayang pada saya, pada mama, dan keluarga kecil kami. Eh, beliau juga sangat menghormati dan menyayangi keluarga besar beliau :)

dan begitu luar biasanya pula saya kadang suka membandel..
'kadang'..
dengan begitu berani membantah beliau..
‘kadang’..
dengan begitu egois saya kadang berkelahi dengan beliau..
'kadang'..
dengan begitu emosi saya kadang marah pada beliau..
'kadang'..

kalau dulu papa pernah melakukan kesalahan, sebagai manusia saya merasa itu sangatlah wajar. Karena apa? Tiada manusia yang sempurna di dunia ini :)

Tiada yang tau betapa saya sangat merindukan papa saya :( kasih sayang papa, amat sangat saya rindukan. Tapi saya harus ikhlas, papa sekarang pasti sudah bahagia bersama Allah :) sebisa saya selalu mendoakan papa.

Papa saya yang luar biasa menurut ingatan saya begitu ..
Papa saya yang dengan keringatnya, dengan air matanya, di usianya yang terlampau tua tetapi masih bekerja. (Dulu)

*duhh,.. sampe nangis nulisnya*

saking jarangnya ngungkapin perasaan ke papa, jadi suka canggung harus bilang apa..

Terima kasih papa..
Terima kasih atas ajaranmu yang luar biasa..
atas sifat yang papa turunin ke aku..
*baru sadar kalo sifat aku itu turunan dari papa*

Terima kasih Ya Allah, telah kau berikan papa terbaik untuk saya :) untuk papa saya..
untuk hati luar biasa yang Engkau berikan kepada beliau.

Semoga papa bahagia selalu berada di sisi Allah. Walau aku rindu tapi aku percaya bahwa papa juga rindu dengan ku disana :)
Sebuah lagu untuk papa :)

Dimana, akan kucari..
Aku menangis seorang diri..
Hatiku slalu ingin bertemu, Untukmu aku bernyanyi..

Untuk Ayah tercinta, aku ingin bernyanyi..
Walau air mata di pipiku..
Ayah dengarkanlah..
Aku ingin berjumpa, Walau hanya dalam mimpi..

(itu adalah lagu yang sering papa nyanyikan denganku dulu.. :) )

aku sayang papa :)
aku rindu papa :’)

dedicated for my beloved FATHER “SUHARDI” ..

Rabu, 14 Januari 2015

someone called "mama" :*

Oleh : Sierly Annisa Rachmasari ;)


Postingan ini menceritakan tentang orang yang saya sayangi yang selalu saya panggil “mama”. Tulisan ini berawal dari rasa kehilangan teramat dalam dari teman saya sewaktu ibunya meninggal..
Dia bilang rasa kehilangan terdalam bukan semata karna dia kehilangan kasih sayang langsung dari ibunya, tetapi lebih dalam karna dia harus kehilangan doa..
doa seorang ibu..
Kata pepatah, doa seorang ibu untuk anaknya adalah doa yang paling  mujarab diantara doa doa yang lain :)
Wanita cantik bernama Kartini dengan anaknya yaitu saya (Sierly) ;)

Saya ga tau secara spesifik apakah mama saya mendoakan saya sedalam ibu orang-orang yang pernah bercerita kepada saya tentang ibu mereka mendoakan anak-anaknya..

Tapi, saya tau bahwa mama sangat menyayangi saya, teramat sayang kepada saya. Dan saya juga sangat menyayangi mama. Begitu besar pengorbanan mama saya selama ini, harus berjuang bertahan hidup demi saya dan keluarga. Menjadi tulang punggung semenjak kepergian papa :( Hem.. saat ini saya masih di kelas XII SMK. Saya harap suatu saat nanti saya bisa membahagiakan mama. Aamiin Ya Rabb O:)

Saya sayang sama mama.
Saya sakit hati kalau ada yang bikin mama menangis.. apalagi orang itu orang terdekat saya. Hal itu pernah terjadi tahun lalu ketika saudara saya sendiri yang membuat hati mama saya terluka. Dan sejak saat itu saya berjanji, tidak akan pernah saya biarkan siapapun menyakiti hati mama.

kata orang-orang, walaupun belum bisa membahagiakan, setidaknya jangan menyakiti !!
Dan kata-kata itu, disempurnakan dengan linangan air mata saya yang sempat menetes setelah membaca postingan dari link ini (maaf kalo saya agak alay)  : 

http://faiza-ulfa.blogspot.com/2012/06/ibu-adalah-ibarat-mentari-yang.html


Pesan saya :
Jangan sakiti mama kamu ya, kamu..
siapapun yang baca postingan saya ini, cintai mama kalian.. :)

Rabu, 07 Januari 2015

Cerpen (Tugas Karya Tulis bahasa Indonesia)

“22 Desember Ibu”

oleh : Sierly A Suhardi.
Pagi sekali Ayu sudah berada di dalam kelas. Rupanya suasana kelas sudah dipenuhi oleh sekumpulan siswa yang tidak lain adalah teman sekelasnya. Bergerombol membentuk kelompok di tempat duduk yang berbeda dan bergosip. Haha, begitulah anak muda. Tapi ada pembicaraan yang menarik perhatian Ayu yang baru saja datang.

“Eh eh eh, sebentar lagi hari ibu guys. Kalian udah nyiapin kado buat ibu kalian?” Ucap Mira teman sekelas Ayu yang paling heboh di kelas.
“Aku ada lah rencana.” Ucap Aida, teman Ayu yang dirasa paling populer disekolahnya.
Ayu melirik Mira, “Kapan?”
“22 Desember ini yu. Senin depan dan kita udah libur sekolaaahh.. Yeeeess.” Kata Mira menghebohkan suasana yang tadinya lumayan hening.
“Ohh..” Ucap Ayu bingung.
“Kenapa? Kok bengong?”
“Aku bingung, mau ngasih apa buat ibu.” Ucapnya muram.
“Ahhh.. santai aja kali, ke kantin yuk. Kita diskusi disana.” Ajak Mira.
“Tinggal 5 menit udah bel Mir.”
Menarik tangan Ayu “Bentar doang, udah ayo cepet.”

22 Desember, hari ibu. Ayu bingung memikirkan apa yang akan dia berikan kepada ibunya tercinta. Hari ibu kali ini, dia ingin memberikan sesuatu yang berbeda untuk ibunya. Tapi kan uang tabungannya udah menipis. Ah, kan masih ada hari esok, pikir Ayu menghibur dirinya sendiri.

“Eh.. ampun deh, kamu jangan bengong sambil pasang muka melas gitu dong. Ngenes tauk.” Ucap Mira menggoda.
“Ih, apaan sih.”
“Masih mikirin kado buat ibu?”
“Hem.. Kamu mau ngasih apa?”
Mira mengangkat bahu. “Masih bingung.. coklat, bunga, kue, dress, kalung berlian, atau tas branded keluaran terbaru bulan ini yang udah di incar mama.”

Ayu ikut mengangkat bahu. Tapi dia berpikir, bukan hal sulit untuk Mira membeli kado untuk ibunya. Dia kan anak orang kaya, tas branded keluaran terbaru yang harganya bisa jadi uang saku Ayu selama dua bulan itu pun sanggup dibeli dengan sekali tunjuk.

“Bel tuh, ayo cepetan balik.”
“Eh, kamu gak makan yu?”
“Aku udah sarapan dirumah tadi.”
“Oh.. oke.” Ucap Mira beranjak dari tempat duduknya.

Sebentar lagi liburan semester ganjil. Dan pastinya Ayu gak dapet uang saku. Gimana caranya dia bisa nabung buat ngasih kado ke ibunya? Hal itu masih saja dipikirkannya sampai dibawa ke dalam kelas. Bahkan dia gak sadar kalau guru Simulasi Digitalnya yang super killer itu sedang meng-absen.

“Rahayu Igusti Pangestu.”
“Rahayu.”
“Rahayu Igusti Pangestu! Yang mana orangnya?” Ucap bu guru sambil membenahi kaca matanya.
Aida menggeser siku Ayu “Yuk.”
“Heh? Apa da?” Ucap Ayu kaget.
“Absen.”
“Eh, Emm.. hadir bu, maaf bu.”
“Oh, kamu. Kenapa? Ngantuk? Masih pagi kok sudah ngantuk. Sana keluar cuci muka!” Sentak guru killer.
“Emm.. maaf bu, permisi.” Ucap Ayu sambil menggaruk kepalanya.

Akhirnya pelajaran yang dinanti selesainya itupun berakhir. Semua mata melihat wajah Ayu yang selalu saja muram sejak tadi pagi itu. Mira dan Aida mendekatinya.

“Hahaha.. sial banget kamu yu, harus berurusan sama guru killer itu.” Ucap Mira.
“Iya nih, si Ayu. Kenapa sih kamu? Sakit? Ada masalah?” Ucap Aida khawatir.
“Hem, apaan sih. Aku gak apa-apa kali. Cuma agak pusing aja.”
“Pusing mikir apa? Besok udah libur kali.. Yesss... have fun ya gaes.” Ucap Mira sumringah.
Ayu semakin bengong.
“Lho, kok?”
 “Iya.. liburnya dimajuin 2 hari.” Ucap Aida.
Melirik Aida “Kenapa?”
“Kurang tau juga sih, tapi ya gak papa lah.”
“Eh, kalian jangan kangen aku yaaa.” Ucap Mira super Pe-De.
“Duuhhhh.. biyung, kumat deh.” Celetuk Aida.

Pulang sekolah, seperti biasa Ayu menunggu angkutan umum yang biasa di tumpanginya saat berangkat dan pulang sekolah. Hal seperti ini sudah biasa baginya, sejak sepeninggal ayahnya.

Kehidupan seperti itu sudah biasa dilalui. Menahan malu, ego, dan gengsi. Dan memang seperti itulah kehidupan yang harus dilaluinya. Ibunya menjadi tulang punggung keluarga, bekerja keras menyekolahkannya dengan berdagang nasi uduk setiap pagi.

Berbeda dengan anak seusianya, Ayu sudah belajar mandiri dan membantu ibunya. Setiap pagi disaat kebanyakan remaja lain masih tertidur pulas menarik selimut dia sudah bangun untuk membantu ibunya. Harus mengatur waktu, dimana setiap paginya harus menunggu angkutan umum sedangkan kebanyakan remaja lain berangkat dengan kendaraan pribadi atau di antar orangtuanya. Awalnya Ayu merasa terpuruk dan sedih. Tapi seiring waktu berlalu, Ayu sudah bisa menerima kehidupannya. Kuncinya bersabar, bersyukur, ikhlas, dan tawakal. Itu yang selalu diajarkan oleh ibunya.

“Koran neng?” Ucap tukang koran sambil menyodorkan korannya.
Mengambil koran. “Berapa bang?”
“Dua ribu aja neng.”
“Emm.. ini bang.” Sambil menyodorkan uang dua ribuan.

Dibacanya koran yang dibelinya itu, matanya tertuju pada halaman kolom iklan lowongan pekerjaan. Dikeluarkannya spidol merah di tasnya, kemudian dilingkarinya lowongan pekerjaan yang di minatinya.

Ayu melangkahkan kakinya dengan bersemangat menuju rumahnya. “Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam.” Ucap Ibunya.

Tapi sore itu Ayu hanya memperlihatkan senyum yang terperangah dari wajah manisnya, Ibunya jadi heran apa yang terjadi pada anak satu-satunya itu.

“Kenapa dek? Kok senyam-senyum sendiri gitu?” Ucap ibunya sambil meletakkan ayakan beras.

Ayu hanya ber haha hehe cekikikan gak jelas. Semakin membuat ibunya heran saja.
“Gak kenapa-kenapa kok buk, Ayu mandi dulu ya.” Ucap Ayu seraya meletakkan sepatunya di rak dan meraih handuk.

Setiap malam Ayu pasti selalu belajar, hemm.. kalau tidak ibunya bisa ceramah tiada henti, hehe.. Tapi Ayu tau, ibunya sangat sayang kepadanya. Dan ingin Ayu menjadi seseorang yang sukses kelak. Agar tak lagi hidup susah. Diraihnya koran yang dibelinya sewaktu di bis kemudian dibukanya halaman lowongan pekerjaan tadi.

“Aduh.. telpon, enggak, telpon, enggak. Ah.. telpon aja deh, demi 22 Desember yu. Semangatt.” Ucap Ayu memberi semangat untuknya sendiri.
Tuuuuttt.. Tuuuuutttt.. Tuuuuttt... “Halo, ada yang bisa dibantu?”
“Emm.. maaf bu, apa lowongan kerja di tempat ibu masih dibuka?”
“Aduh, maaf sekali dek.. sudah ada yang ngisi.”
“Oh, iya bu. Terimakasih.”

Wajah Ayu sudah mulai muram, dia tidak yakin bisa mendapat pekerjaan sampingan. Tapi Ayu belum menyerah, di raihnya handphone di mejanya. Kali ini panggilan keduanya.

“Selamat malam.”
“Malam, ada yang bisa dibantu?”
“Maaf apakah lowongan kerja di tempat bapak masih dibuka?”
“Wah, sudah ada yang mengisi dek. Baru saja, sekitar 5 menit-an”
“Oh, baiklah pak. Terimakasih sebelumnya.”

Panggilan keduanya pun gagal. Kali ini dia meyakinkan diri, dan berdo’a. Diraihnya kembali handphone miliknya itu.

“Selamat malam, permisi.. apakah lowongan kerja di tempat anda masih ada?”
“Malam, oh iya.. kebetulan sekali, saya sudah menunggu. Masih, masih, masih ada lowongannya.”
“Alhamdulillah, saya berniat melamar kerja di tempat ibu.”
“Oh.. tentu, besok datang saja jam 8. Nanti kita diskusikan mengenai pekerjaan kamu, dan juga gaji yang kamu terima.”
“Iya bu, terimakasih. Saya pasti tepat waktu. Emm.. tapi saya hanya bisa bekerja disela-sela liburan sekolah ini saja bu.”
“Ya, kita diskusikan saja besok.”
“Baik bu, sekali lagi terimakasih.”

Kemuraman di wajah Ayu sirna sudah. Dia berniat untuk tidur lebih awal supaya besok bisa bersiap-siap berangkat lebih pagi dari waktu yang sudah ditentukan. Tapi sebelum tidur dia harus mempersiapkan peralatan untuk berjualan ibunya besok.

Pagi pun tiba, Ayu dengan semangat bergegas berangkat. Di tulisnya alamat tempatnya akan bekerja itu di selembar kertas. Di perempatan lampu merah dia turun dari bis. Dicarinya alamat itu, hem.. bener apa kata pepatah. Malu bertanya sesat di jalan. Jadi sebelum Ayu tersesat dia bertanya kepada tukang ojek di dekat gang kecil.

“Permisi bang, tau alamat ini?” Ucap Ayu sambil menyodorkan kertas yang berisi alamat tadi.
“Oh, ini neng.. saya tau tempatnya. Pabrik gula terbesar disini kan? Cuman lumayan jauh dari sini. Mau saya anter?”
“Wah, gak usah bang. Saya jalan kaki aja, bisa kasih tau saya jalannya?”
“Bener nih, yasudahlah. Kan dari sini lurus, terus nanti ada belokan ke kiri..”

Dan ber blah blah blah lah si abang tukang ojek tadi menunjukkan jalan yang harus ditempuh Ayu.
Mengangguk. “Makasih bang.”

Ayu mengikuti jalan yang tadi diberitahukan padanya. Dan berdirilah dia di depan alamat yang dicarinya tadi.
“Ini dia! Huhh.. alhamdulillah, akhirnya ketemu juga.” Ucap Ayu.
“Permisi neng, ada yang bisa dibantu?” Tanya satpam yang berjaga.
“Maaf pak, bu Isni nya ada?”
“Oh, mau ketemu bu Isni. Ada.. mari saya antar.”
Ayu pun mengikuti satpam yang mengantarnya pada bu Isni, calon atasannya.
“Permisi bu, ada yang mau bertemu.” Ucap pak Satpam.
“Ah iya, ini pasti Rahayu kan, pegawai baru?”
Melirik Ayu, “Oh.. pegawai baru.” Ucap pak satpam.
“Iya bu, saya Rahayu.”
“Ya sudah, pak Tarjo bisa balik lagi ke tempat.” Ucap bu Isni.
“Baik bu.”
“Terimakasih pak.” Ucap Ayu.

Hari pertama Ayu diberi pengarahan tentang apa saja yang harus di pelajari dan di kerjakannya. Dan waktu luangnya diisi dengan bekerja. Ibu Ayu tidak tau tentang kegiatan yang dilakukan Ayu selama liburan. Yang ibunya tau, Ayu belajar bersama teman-temannya. Ayu sengaja tidak memberitahu ibunya, karena selain ingin memberikan kejutan kepada ibunya, Ayu juga tidak ingin jika ibunya tau maka dia tidak diperbolehkan bekerja mengingat usianya yang masih 16 tahun.

Sore ini Ayu merasa sangat lelah. Tapi Ayu senang dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari waktu yang diperkirakan.
“Ayu, ikut ke ruangan saya sebentar.” Ucap bu Isni.
Ayu hanya menundukkan kepala sambil tersenyum sopan, kemudian mengikuti perintah atasannya itu.
Menarik ganggang pintu “Permisi.”
“Ya, silahkan masuk.”
“Maaf bu, ada apa ya saya dipanggil? Emm... Apa saya membuat kesalahan?” Ucap Ayu sambil terbata-bata karena khawatir.
“Oh, ndak. Saya memanggil kamu karena ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan.”
Lega.
“Huh, syukurlah.. diskusi mengenai apa bu?”
“Waktu di telepon kemarin kamu sempat bilang kalau kamu hanya dapat bekerja sampai masa liburanmu habis kan?”
“Benar bu, saya melamar untuk bekerja agar mendapat penghasilan untuk membeli hadiah buat ibu saya 22 Desember ini.” Ucap Ayu.
“Hari Ibu?”
“Iya bu.” Ucap Ayu sambil mengangguk.
“Masa  liburanmu berapa bulan?”
“Ah ibu ini, sebulan juga tidak ada. Sekitar dua mingguan bu.”
“Ohh.. begitu rupanya, baiklah.. mengingat hari pertama bekerja kamu sudah melakukan apa yang saya perintahkan dengan baik dan juga untuk membantu kamu membelikan ibumu hadiah, saya tetap mempertahankan kamu untuk bekerja disini.” Ucap bu Isni.
“Ah.. Alhamdulillah. Terimakasih bu, semoga Allah membalas kebaikan ibu.” Ucap Ayu bersyukur.
“Mengenai gaji, tidak perlu kamu pikirkan. Yang saya minta, tolong bekerjalah dengan giat. Jangan hanya rajin dan gesit di awal saja.”
“Tentu bu. Saya akan bekerja lebih rajin dan lebih giat lagi.”
“Baiklah, jangan kecewakan saya.”
“Siap bu, saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah ibu berikan kepada saya.” Ucap Ayu bersemangat.

Melihat semangat yang membara dari Ayu, bu Ismi pun ikut senang. Pekerjaan yang dilakukan Ayu lumayan melelahkan. Dia harus menghitung setiap pemasukan dan pengeluaran kantor. Belum lagi dia harus mencatat dan terjun langsung ke pabrik untuk meneliti dan menghitung banyak gula yang siap dipasarkan. 

Setiap harinya Ayu harus bertemu dengan banyak pegawai lain di pabrik. Untung saja Ayu mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Karena sikapnya yang ramah, murah senyum dan tidak sombong. Bahkan Ayu sangat akrab dengan pak Satpam yang sudah 15 tahun bekerja di pabrik gula itu, dan yang membantunya saat pertama bekerja.

Tak dirasa, waktu bekerja Ayu tinggal hari ini. Rasa sedih juga bahagia menghampirinya. Ayu bahagia, karena sebentar lagi dia bisa membelikan hadiah untuk ibunya 22 Desember nanti. Tapi dia juga bersedih, karena harus meninggalkan pekerjaan dan juga para pegawai yang sudah seperti keluarga baginya. Walaupun dia bekerja dalam waktu yang singkat. Dan kini tiba saat baginya untuk berpamitan.

“Terimakasih buat bu Isni, yang sudah memberikan saya kesempatan bekerja, terimakasih buat pak Tarjo yang sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri, buat teman-teman pegawai yang lain. Saya berniat untuk berpamitan, karena waktu saya disini sudah selesai.” Ucap Ayu berkaca-kaca.
“Sama-sama yu, saya salut sama kamu. Masih muda, punya semangat yang luar biasa, ingin membahagiakan ibu kamu, juga bekerja dengan gesit dan rapi.” Ucap bu Isni.
“Iya neng, pak Tarjo jadi sedih. Nanti siapa yang bisa pak Tarjo mintai pendapat soal anak bapak. Siapa yang nemenin bapak main catur lagi.”
“Haha, Ah.. pak Tarjo ini. Hem, bapak kan bisa main kerumah saya. Atau nanti saya yang main-main kerumah pak Tarjo, atau kesini kalau masih diperbolehkan.” Ucap Ayu.
“Tentu boleh lah Rahayu sayang, sering-sering main kesini. Bantu-bantu saya juga gak apa-apa.” Ucap bu Isni menggoda.
“Terimakasih semuanya.” Ucap Ayu sedikit terisak.
Mengeluarkan amplop dari dompet. “Oh iya, ini gaji kamu selama bekerja disini. Mungkin hanya ini yang dapat saya berikan. Belikan hadiah yang terbaik buat ibu kamu ya. Juga sampaikan salam saya.” Ucap bu Isni.
“Terimakasih bu, sekali lagi terimakasih semua. Ayu permisi, Assalamu’alaikum.” Ucap Ayu seraya berbalik meninggalkan kantornya.

Hasil jerih payah Ayu sudah ada di tangannya. Hasil kerja kerasnya selama liburan, dan hasil kerjanya itu digunakannya untuk membelikan ibunya kalung emas, juga beberapa pakaian untuk ibunya. Mengingat bahwa selama ini ibunya berpenampilan dengan pakaian yang agak lusuh, karena demi mengutamakan kebahagiaan Ayu.

Akhirnya, hari yang dinantipun tiba. 22 Desember, hari Ibu se-dunia. Ayu menghampiri ibunya yang sedang duduk di ruang tengah rumahnya. Ibunya terlihat sangat lelah dan mengantuk. Beliau memang jarang sekali mendapatkan istirahat yang cukup.

“Buk.” Panggil Ayu.
“Apa dek? Ibu capek banget hari ini.”

Diraihnya kaki ibunya, kemudian diletakkannya di atas paha Ayu. Ayu mulai memijat kaki ibunya. Matanya berkaca-kaca melihat ibunya yang begitu kelelahan. Tapi senyum selalu tersirat di wajah tuanya itu.

“Buk, maafin Ayu ya. Ayu belum bisa bantuin ibuk.”
“Kamu ini ngomong apa to dek, tugas kamu itu belajar yang pinter. Kejar cita-cita kamu, supaya kelak jadi anak yang sukses.” Ucap Ibunya.
Dikeluarkannya bingkisan kado dari tasnya.
“Buk, Selamat hari ibu.. Ayu punya kado buat ibu.” Ucap Ayu sambil mengulurkan bingkisan kado dari tangannya.
“Apa ini dek?”
“Buka aja dulu buk.”
Dibukanya kado dari Ayu oleh ibunya. “Kalung Emas? Kamu dapet uang darimana dek?”
“Emm.. itu Ayu beli pake uang yang halal kok buk, ibu gak perlu khawatir.”
“Iya, tapi kamu dapet uang darimana?”
“Sebenernya Ayu bekerja buk, selama liburan ini.”
“Kerja apa sayang? Ya Allah, ibu gak pengen anak ibuk ini jadi terbebani.”
“Ayu gak merasa terbebani kok buk, justru Ayu bahagia kalau ibu bahagia. Ayu pengen bahagiain ibuk.” Ucap Ayu.
“Ibu ini sudah bahagia sayang, ibu bahagia punya anak gadis yang cantik, pintar, baik hati. Ibu bahagia punya Ayu, anak ibu.” Ucap ibunya berkaca-kaca.
Memeluk ibunya. “Ibuk.. Ayuk sayang sama ibu. Makasih buk, udah jadi ibu terhebat selama ini buat Ayu.”
“Iya sayang, sama-sama sayang.. ibu juga berterimakasih buat kadonya.”

 Sekian ^_^  Terimakasih telah membaca ;))